Profil

Mengenal Lebih Dekat Margaret Thatcher Si Wanita Besi dari Inggris

Posted on

Lahir dengan nama Margaret Hilda Thatcher, sosok wanita hebat ini menjadi politikus Britania Raya, lebih tepatnya sebagai Perdana Menteri wanita pertama di Inggris pada abad ke 20, yakni mulai tahun 1979 hingga 1990. Fakta lain menunjukan bahwa Margaret Thatcher adalah perdana menteri yang menjabat paling lama yakni mencapai sebelas tahun lamanya. Latar belakang keluarga Margaret Thatcher memang lekat dengan dunia politik.

Ayahnya, Alfred Roberts adalah seorang politikus lokal dan pengkhotbah di gereja Methodist. Selama satu tahun yakni pada tahun 1945 – 1946 Alfred menjabat sebagai wali kota Grantham, namun pada tahun 1950 partai buruh mendapatkan kemenangan atas suara mayoritas di Dewan Kota Grantham sehingga menyebabkan ayah Margaret Thatcher kehilangan posisinya sebagai wali kota.

margaret thatcher muda - dengan dua anaknya

Margaret Thatcher tumbuh di Grantham, Lincolnshire, sebuah kota kecil yang berada di timur Britania Raya. Di kota ini sang ayah mempunyai dua toko dan mereka tinggal di sebuah flat. Margaret Thatcher dan saudaranya, Muriel tumbuh dengan didikan kristen taat sebagai Methodist. Margaret Thatcher sendiri memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Huntingtower Road dan berlanjut ke Kesteven and Grantham Girls School. Pada tahun 1943 ia mengenyam pendidikan kimia di Somerville College, Oxford dan lulus pada tahun 1947.

Karir Politik Pertama Magaret Thatcher

Setelah mendapatkan gelar Second Class Honours dari Sommerville College, Margaret memulai karirnya sebagai ahli kimia. Debut politik pertamanya dimulai tahun 1948 di mana Margaret menjadi wakil dari organisasi konservatif lokal dalam konferensi partai di Llandudno. Dari sinilah Margaret Thatcher mulai tergabung dalam partai konservatif dan pada tanggal 15 Februari 1951 ia terpilih sebagai kandidat untuk daerah pemilihan Dartford. Karir politiknya tidak selalu berjalan mulus di mana pada tahun 1950 – 1951, ia gagal memenangkan diri sebagai anggota parlemen Inggris. Kegigihannya dengan kembali mencalonkan diri untuk ketiga kalinya di tahun 1959 membuahkan hasil dengan terpilih dan masuk ke Parlemen Inggris.

Di Balik Julukan Wanita Besi “Iron Lady”

Seorang wartawan militer yang berasal dari Uni Soviet, yakni Kapten Yuri Gavrilov memberikan Margaret Thatcher sebuah julukan “Iron Lady” atau Si Wanita Besi karena konsistensinya menentang komunisme. Pada tahun 1976 julukan ini muncul pertama kalinya di harian Red Star edisi 24 Januari 1976. Beberapa hari sebelumnya, Margaret Thatcher mengkritisi dominasi militer Uni Soviet yang menurutnya mengancam Britania Raya. Ia juga menyampaikan Soviet hanya kuat dalam aspek militer saja dan merupakan kegagalan secara terminologi kemanusiaan dan ekonomi. Margaret memang tokoh politik yang terkenal kukuh dalam menetapkan pandangannya. Julukan Iron Lady nampaknya juga tidak terlepas dari gaya berpolitiknya selama menjadi Perdana Menteri Inggris.

poster film the iron lady

Akhir Politik Sang Wanita Besi

Margaret Thatcher memenangkan suara mayoritas untuk menjadi Perdana Menteri selama tiga kali masa pemerintahan. Namun, sebelum masa pemerintahannya yang ketiga berakhir, terjadi gejolak politik yang menyebabkan ia mengundurkan diri pada tahun 1990. Kebijakan membayar pajak untuk seluruh warga Inggris secara merata dinilai terlalu memberatkan rakyat.

Meskipun Margaret Thatcher resmi mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris, namun ia masih aktif sebagai anggota parlemen hingga tahun 1990. Dalam bidang ekonomi dan sosial, Margaret Thatcher sangat berperan dalam mentranformasikan Inggris mejadi negara yag lebih modern serta mempunyai eksistensi di mata dunia.

Setelah tidak terlalu aktif dalam dunia politik, Margaret Thatcher, Si Wanita Besi menjadi pembicara yang dibayar mahal untuk setiap pidato–pidatonya. Pada tahun 2002 ia dikabarkan menderita penyakit stroke dan harus menjalani perawatan secara intensif. Hal ini menyebabkan Margaret Thatcher mulai jarang terlihat di hadapan publik. Pada tanggal 8 April 2013, Margaret Thatcher, Si Wanita Besi dari Inggris tutup usia di kota London. Kabar kematian Margaret Thatcher dikonfirmasi oleh Lord Bell, juru bicaranya.

Riwayat kehidupan Margaret Thatcher diabadikan dalam sebuah film berjudul “The Iron Lady” sesuai julukannya di kancah politik. Sebagai bentuk penghargaan, patungnya terpasang di Westminster bersama dua Perdana Menteri Inggris lainnya.

Profil

RA. Kartini dan Pendidikan Kaum Perempuan Indonesia

Posted on
ra kartini - pahlawan pendidikan perempuan

November bulan pahlawan. Pas banget! Setelah merayakan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, kini saatnya mengenang jasa-jasa pahlawan pada tanggal 10 November. Sebenarnya gak mesti di tanggal ini sih buat mengenang jasa pahlawan. Bisa kapan saja. Pahlawan yang gugur di medan perang di seluruh wilayah di Indonesia ga keitung jumlahnya. Sebagian yang masih hidup jadi saksi perang dengan kondisi mereka yang tidak mendapat perhatian pemerintah. Kalau ditanya berapa banyak pahlawan Indonesia yang sudah berjasa menjadikan Indonesia sepeti ini? Jawabannya banyak!

            Tapi, kalau kids zaman now ditanya nama-nama pahlawan Indonesia, kira-kira masih pada apal gak yah? Gak usah semua deh. Cukup sebutin 10 aja. Kita sesuaiin dengan tanggal peringatan hari pahlawan. Hayooooo! Masih pada ingat gak nih gengs? Jangankan anak-anak, mungkin sebagian orang dewasa juga tidak mengenal nama pahlawan.

ra kartini - pahlawan pendidikan perempuan

Kali ini kita mau bahas satu orang pahlawan saja, seorang wanita, yang diperingati secara khusus. Kamu pasti tahu kan siapa yang dimaksud? Yaps, siapa lagi kalau bukan Raden Ajeng (R.A) Kartini. Pahlawan wanita ini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Beliau dikenal sangat gigih mengadakan sekolah untuk perempuan sehingga beliau mendapat julukan tokoh emansipasi wanita. Tau dong, di zaman itu, perempuan mana bisa sekolah.

Kartini adalah anak pejabat lho, kalau di zaman sekarang. Dia seorang anak bupati Jepara yang sempat bersekolah walaupun dia seorang perempuan. Karena pada usia 12 tahun, sebagai anak perempuan, sekali lagi anak perempuan, Kartini sudah mulai dipingit dan ga boleh ke luar rumah. Menyedihkan ya! Terkekang oleh aturan-aturan, dia tidak bebas seperti layaknya perempuan-perempuan di Eropa yang dia lihat di sekolahnya ataupun di buku/koran berbahasa Belanda yang dibaca.

Sejak dipingit, Kartini mulai menulis surat ke teman-temannya. Salah satunya yaitu Rosa Abendanon. Dengan Abendanon inilah, pikiran Kartini semakin terbuka dan melintasi samudera, membayangkan kondisi kaum wanita Eropa. Kartini muda juga ingin perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa bisa punya kesempatan belajar dan hak yang sama dengan kaum lelaki. Di masa itu, Kartini sudah berpikir bahwa dengan pendidikan, seorang perempuan bisa  lebih sejahtera. Dia pun mengajar di  Sekolah Khusus Perempuan Jepara yang didirikannya.  Hebat yah!

surat ra kartini

Selain menulis surat, Kartini juga rajin baca buku lho! Salah satu buku yang dia baca adalah karangan Multatuli yang  berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta di usianya yang baru 20 tahun.  Buku-buku tersebut membuat wawasan Kartini makin bertambah dan isi buku tersebut juga didiskusikan dengan Abendanon.

Takdir Kartini sebagai perempuan Jawa tetap ga bisa dihindari. Dia harus menerima pinangan laki-laki yang seumur dengan ayahnya, seorang bupati Rembang yang sudah punya 3 istri. Kartini menikah di usia 24 tahun di saat masih banyak impiannya yang belum tercapai. Hebatnya, suaminya tetap ngizinin Kartini mengajar di Sekolah Khusus Perempuan di Rembang. Namun, Kartini tidak berumur panjang. Dia meninggal di usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya dan dikuburkan di Desa Bulu, Rembang.

Setelah Kartini meninggal, sahabat penanya Abendanon, mulai mengumpulkan surat-surat Kartini sebagai bentuk kekagumannya pada sosok perempuan Jawa ini. Surat-surat itu dijadikan buku dengan nama Door Duisternis tot Licht yang berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku kumpulan surat Kartini ini berbahasa Belanda yang terbit pada tahun 1911. Di tahun 1922, Balai Pustaka menerjemahkan buku ini ke bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari isi surat-surat Kartini, kita kaum perempuan bisa lebih banyak belajar. Bahwa pendidikan itu penting, lho! Pendidikan bisa meningkatkan kesejahteraan kaum perempuan. Jadi, ga ada alasan untuk ga sekolah ya!