Posted by on November 30, 2017

November bulan pahlawan. Pas banget! Setelah merayakan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, kini saatnya mengenang jasa-jasa pahlawan pada tanggal 10 November. Sebenarnya gak mesti di tanggal ini sih buat mengenang jasa pahlawan. Bisa kapan saja. Pahlawan yang gugur di medan perang di seluruh wilayah di Indonesia ga keitung jumlahnya. Sebagian yang masih hidup jadi saksi perang dengan kondisi mereka yang tidak mendapat perhatian pemerintah. Kalau ditanya berapa banyak pahlawan Indonesia yang sudah berjasa menjadikan Indonesia sepeti ini? Jawabannya banyak!

            Tapi, kalau kids zaman now ditanya nama-nama pahlawan Indonesia, kira-kira masih pada apal gak yah? Gak usah semua deh. Cukup sebutin 10 aja. Kita sesuaiin dengan tanggal peringatan hari pahlawan. Hayooooo! Masih pada ingat gak nih gengs? Jangankan anak-anak, mungkin sebagian orang dewasa juga tidak mengenal nama pahlawan.

ra kartini - pahlawan pendidikan perempuan

Kali ini kita mau bahas satu orang pahlawan saja, seorang wanita, yang diperingati secara khusus. Kamu pasti tahu kan siapa yang dimaksud? Yaps, siapa lagi kalau bukan Raden Ajeng (R.A) Kartini. Pahlawan wanita ini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Beliau dikenal sangat gigih mengadakan sekolah untuk perempuan sehingga beliau mendapat julukan tokoh emansipasi wanita. Tau dong, di zaman itu, perempuan mana bisa sekolah.

Kartini adalah anak pejabat lho, kalau di zaman sekarang. Dia seorang anak bupati Jepara yang sempat bersekolah walaupun dia seorang perempuan. Karena pada usia 12 tahun, sebagai anak perempuan, sekali lagi anak perempuan, Kartini sudah mulai dipingit dan ga boleh ke luar rumah. Menyedihkan ya! Terkekang oleh aturan-aturan, dia tidak bebas seperti layaknya perempuan-perempuan di Eropa yang dia lihat di sekolahnya ataupun di buku/koran berbahasa Belanda yang dibaca.

Sejak dipingit, Kartini mulai menulis surat ke teman-temannya. Salah satunya yaitu Rosa Abendanon. Dengan Abendanon inilah, pikiran Kartini semakin terbuka dan melintasi samudera, membayangkan kondisi kaum wanita Eropa. Kartini muda juga ingin perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa bisa punya kesempatan belajar dan hak yang sama dengan kaum lelaki. Di masa itu, Kartini sudah berpikir bahwa dengan pendidikan, seorang perempuan bisa  lebih sejahtera. Dia pun mengajar di  Sekolah Khusus Perempuan Jepara yang didirikannya.  Hebat yah!

surat ra kartini

Selain menulis surat, Kartini juga rajin baca buku lho! Salah satu buku yang dia baca adalah karangan Multatuli yang  berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta di usianya yang baru 20 tahun.  Buku-buku tersebut membuat wawasan Kartini makin bertambah dan isi buku tersebut juga didiskusikan dengan Abendanon.

Takdir Kartini sebagai perempuan Jawa tetap ga bisa dihindari. Dia harus menerima pinangan laki-laki yang seumur dengan ayahnya, seorang bupati Rembang yang sudah punya 3 istri. Kartini menikah di usia 24 tahun di saat masih banyak impiannya yang belum tercapai. Hebatnya, suaminya tetap ngizinin Kartini mengajar di Sekolah Khusus Perempuan di Rembang. Namun, Kartini tidak berumur panjang. Dia meninggal di usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya dan dikuburkan di Desa Bulu, Rembang.

Setelah Kartini meninggal, sahabat penanya Abendanon, mulai mengumpulkan surat-surat Kartini sebagai bentuk kekagumannya pada sosok perempuan Jawa ini. Surat-surat itu dijadikan buku dengan nama Door Duisternis tot Licht yang berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku kumpulan surat Kartini ini berbahasa Belanda yang terbit pada tahun 1911. Di tahun 1922, Balai Pustaka menerjemahkan buku ini ke bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari isi surat-surat Kartini, kita kaum perempuan bisa lebih banyak belajar. Bahwa pendidikan itu penting, lho! Pendidikan bisa meningkatkan kesejahteraan kaum perempuan. Jadi, ga ada alasan untuk ga sekolah ya!

Posted in: Profil

Comments

Be the first to comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*